Gejala Mononukleosis, Berikut Penyebabnya di 2023

Gejala Penyakit Mononukleosis, Berikut Penyebabnya di 2023

Penyakit MononukleosisGejala mononukleosis, juga dikenal sebagai demam kelenjar, biasanya muncul 7 hingga 14 hari setelah terpapar virus Epstein-Barr (EBV). Gejala-gejala ini dapat berlangsung selama beberapa minggu, bahkan hingga beberapa bulan. Berikut adalah beberapa gejala umum mononukleosis:

  • Demam: Demam tinggi, biasanya mencapai 40°C (104°F) atau lebih tinggi, adalah gejala yang paling umum terjadi pada penderita mononukleosis. Demam ini biasanya berlangsung selama 3 hingga 4 hari.

  • Sakit tenggorokan: Sakit tenggorokan yang parah dan disertai dengan pembengkakan amandel adalah gejala umum lainnya pada penderita mononukleosis. Sakit tenggorokan ini biasanya berlangsung selama 7 hari atau lebih.

  • Pembengkakan kelenjar getah bening: Pembengkakan kelenjar getah bening, terutama di leher dan ketiak, adalah gejala khas mononukleosis. Pembengkakan kelenjar getah bening ini biasanya berlangsung selama beberapa minggu.

  • Nyeri otot dan lemas: Nyeri otot dan lemas adalah gejala umum lainnya pada penderita mononukleosis. Nyeri otot dan lemas ini biasanya berlangsung selama beberapa minggu.

  • Ruam: Ruam yang berwarna merah atau merah muda dapat muncul di kulit penderita mononukleosis. Ruam ini biasanya muncul di wajah dan tubuh bagian atas.

  • Kelelahan: Kelelahan yang parah dan berkepanjangan adalah gejala umum lainnya pada penderita mononukleosis. Kelelahan ini dapat berlangsung selama beberapa bulan.

  • Gejala lainnya: Gejala-gejala lain yang dapat muncul pada penderita mononukleosis adalah mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit kepala, dan diare..

Terbuka di jendela baru vips-cash.xyz

Penyebab Penyakit Mononukleosis

Mononukleosis disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV), yang merupakan virus herpes yang umum. Virus ini biasanya menyebar melalui air liur, terutama melalui ciuman. Virus ini juga dapat menyebar melalui cairan tubuh lainnya, seperti darah dan cairan vagina.

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko tertular mononukleosis meliputi:

  • Kontak dekat dengan orang yang terinfeksi EBV, terutama melalui ciuman
  • Berbagi peralatan makan dan minum dengan orang yang terinfeksi EBV
  • Tinggal di asrama atau tempat penampungan
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah

Diagnosis Penyakit Mononukleosis

Diagnosis mononukleosis biasanya dilakukan berdasarkan gejala, riwayat kontak dengan orang yang terinfeksi, dan hasil pemeriksaan fisik. Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan laboratorium, seperti tes darah, untuk membantu menegakkan diagnosis.

Pengobatan Mononukleosis

Tidak ada pengobatan spesifik untuk mononukleosis. Pengobatan biasanya bertujuan untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasi. Pengobatan yang dapat diberikan meliputi:

  • Istirahat yang cukup
  • Minum banyak cairan
  • Obat penurun demam, seperti parasetamol atau ibuprofen
  • Obat batuk dan pilek
  • Obat kumur untuk meredakan sakit tenggorokan

Pencegahan Penyakit Mononukleosis

Tidak ada cara yang pasti untuk mencegah mononukleosis. Namun, risiko tertular mononukleosis dapat dikurangi dengan:

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air secara teratur, terutama setelah berada di tempat umum
  • Menghindari berbagi peralatan makan dan minum dengan orang lain
  • Menghindari ciuman dengan orang yang diketahui terinfeksi EBV

Komplikasi Penyakit Mononukleosis

Komplikasi mononukleosis jarang terjadi, tetapi dapat serius. Komplikasi yang paling umum adalah:

  • Splenomegali: Pembesaran limpa adalah komplikasi yang paling umum terjadi pada mononukleosis. Limpa adalah organ kecil di perut yang berfungsi untuk menyaring darah. Pembesaran limpa dapat menyebabkan nyeri di perut bagian atas dan meningkatkan risiko perdarahan.

  • Infeksi sekunder: Infeksi sekunder, seperti pneumonia, meningitis, dan ensefalitis, dapat terjadi pada penderita mononukleosis yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

  • Autoimunitas: Mononukleosis dapat menyebabkan gangguan autoimunitas, seperti lupus dan sindrom Sjögren.

Baca Juga : Cara Mengatasi Gejala Rematik

Pertanyaan umum tentang Penyakit mononukleosis

Apakah Penyakit Mononukleosis menular?

Ya, mononukleosis menular. Virus Epstein-Barr (EBV) yang menyebabkan mononukleosis dapat menyebar melalui air liur, terutama melalui ciuman. Virus ini juga dapat menyebar melalui cairan tubuh lainnya, seperti darah dan cairan vagina.

Berapa lama seseorang dapat menularkan Penyakit Mononukleosis?

Orang yang terinfeksi EBV dapat menularkan Penyakit Mononukleosis selama beberapa minggu, bahkan hingga beberapa bulan, setelah gejala pertama muncul.

Apakah mononukleosis berbahaya?

Dalam kebanyakan kasus, mononukleosis tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Namun, pada beberapa kasus, mononukleosis dapat menyebabkan komplikasi, seperti splenomegali, infeksi sekunder, dan autoimunitas.

Apakah ada vaksin untuk Penyakit Mononukleosis?

Saat ini, tidak ada vaksin yang tersedia untuk mencegah mononukleosis.

Bagaimana cara mengetahui apakah saya terinfeksi Penyakit Mononukleosis?

Jika Anda mengalami gejala-gejala mononukleosis, seperti demam, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan kelelahan, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Apa yang harus saya lakukan jika saya terinfeksi Penyakit Mononukleosis?

Jika Anda terinfeksi mononukleosis, sebaiknya istirahat yang cukup, minum banyak cairan, dan hindari aktivitas fisik yang berat. Anda juga harus menghindari kontak dekat dengan orang lain, terutama anak-anak dan orang tua. Jika Anda mengalami gejala yang parah, seperti nyeri perut, kesulitan bernapas, atau perdarahan, segera konsultasikan ke dokter.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *